Pages

Wednesday, October 28, 2020

Door.



Hai! untuk kalian para pejuang ptn, atau siapa pun yang gak sengaja nemuin postingan ini, selamat datang! Sekedar info, draft asli postingan ini gue tulis pas tanggal 4 Oktober, bertepatan dengan ulang tahun ke-19 gue, dalam rangka mengingat perjalanan panjang yang gue lalui untuk sampai ke titik ini. lol.


"Kita gabisa ngubah masa lalu, orang itu udah terjadi kok. Mau diapain lagi? yang terpenting kita fokus sama saat ini dan ngelakuin hal-hal yang berguna untuk memperbaiki masa depan." perkataan tutor inggris gue di pertemuan pertama les offline.

Sebelumnya, perkenalan dulu. Panggil aja gue na. Gue lulus SMA di tahun 2019 dan pada waktu itu angkatan gue adalah angkatan yang pertama kali pake sistem ujian tulis basis komputer (UTBK) untuk test SBMPTN. Di tahun itu, gue ikut UTBK dua kali. Skor yang pertama cukup mengecewakan, terlebih lagi karena gue udah ngeluangin banyak waktu untuk belajar, bahkan di liburan Natal sekalipun. Pas bulan Desember 2018, gue sempet ikut les, tapi keluar karena ga cocok sama metode ngajar gurunya. Baru ikut 2 kali pertemuan, gue langsung minggat.

Kemudian sampai lah pada UTBK gelombang dua yakni 25 Mei 2019. Seminggu setelah graduation sekolah gue. Seusai UTBK, otak gue udah capek, butuh istirahat. Gua juga "trauma" ngeliat aplikasi belajar yang ada di hp gue yang udah ada disitu selama 9 bulan terakhir. Gue mulai uninstall satu per satu. Mulai dari Ruang Guru, Zenius, Quipper, FLIP (Timer buat belajar gue), dan lain-lain. Di tahun itu, gue gak ikut ujian mandiri karena udah stress banget kebanyakan di-push dalam berbagai aspek. Sementara itu, temen-temen gue pada sibuk ikut test di ptn ini itu. Gue? sibuk ngurusin bisnis jastip BT21:)

Ya bloon.

Pengumuman SBMPTN 2019 pun tiba. Hasil kerja keras gue selama setahun belakangan akan ditentukan di tanggal 9 Juli 2019. It's such a beautiful number, and month. I've always liked July, ANYWAY

Gue dinyatakan lolos SBMPTN 2019 Pilihan Kedua. At that time, pilihan gue sangat rasional, bahkan rasionalisasi ripajp aja kalah. I am proud that I made it. My friends all congratulated me, but what's changing in my life aspect? None. 

Ya begitulah. Gua gak jadi pindah.

Gue gak belajar lagi, dan punya planning seperti ini untuk setahun ke depan:

Kuliah sampe 2 semester abis itu ikut SBM lagi. Kalo keterima? pindah. 

Kalo gak lolos? Keluar.

Abis itu ikut bimbel buat kesempatan SBMPTN yang terakhir.

That's why selama ini gue belajar mati-matian buat belajar, karena, I saw my second chance as my "last". I gave my all. Gue gak mau ngulang lagi, dan target gua juga gak kecil.

My mom really against me to re-take SBMPTN again. She told me to just focus on my current uni. It's not even a place that I wanted to go in the first place. She said, i'll be crazy and ended up in nowhere. It's like a curse

I fought hard for College Entrance Exam the past 2 years, so, why would I give up just like that? I didn't get the support that I wanted, no

must you get emotionally supported by your parents to achieve your dreams?

And, if they said "no", would you just stop right away?


Kenapa Harus PTN?

Kalo di Korea ada yang namanya SKY (SNU-Korea Uni-Yonsei), di Indonesia juga punya top 3 nya tersendiri yaitu UI, UGM, ITB. The holy trinity.

Jujur awalnya gue gak masalah mau kuliah dimana aja. Tapi, ya, setelah ngulang sbmptn di tahun 2020 ini gue jadi sadar akan banyak hal. Gaperlu disebutin secara blak-blakan. Ya gitudeh.

And yeah, I won't be lanjut S-2 anytime soon. Mungkin nanti, 6 tahun lagi. Lagi pula, kesempatan gue masih kesisa 1, ngapain gue buang-buang buat nungguin S-2 yang masih lama? Lulus aja belom. Mending stress nya sekalian, daripada stress lagi nanti.

Lucu juga ya setelah gue ngetik kaya gini. Dulu bahkan gue sama sekali gak pernah ngimpi nyantumin UI di pilihan uni SBMPTN. I've tasted both sides. Highs and Lows. Now that I look back, i seemed like an asshole too. I never check out on my friends' well being when they didn't get accepted in 2019, i am too busy in my own world, thinking i'm the only one who had it hard. But aren't we all? Instead we bury our hardships and hit it with "move on". Gua ngerasa kayak clueless arrogant b*tch, who uploaded pengumuman lulus, when my friend gak keterima. lol. 

Still, my friend, do whatever that makes you happy as long it doesn't harm anyone.

Beberapa hari yang lalu gue nemu salah satu tweet dan nyimpen ini di favorites:

"Kita lagi ada di dalam bus, semua orang di sekitarmu terlihat duduk di bangku, namun kamu sendiri yang sedang berdiri, jangan iri dengan yang duduk, jangan benci karena hanya kamu yg berdiri."



I failed.

Tahun ini gue udah kuliah, jalan 3 semester, di salah satu perguruan tinggi swasta. Rencananya gue pengen sampe 2 semester doang. Tapi takdir berkata lain, di tahun 2020 ini gue mengalami sejumlah kegagalan. Mulai dari gak keterima SBMPTN, Ujian Mandiri SIMAK UI, UTUL UGM, UNPAD, UB, dan lain sebagainya.

Ini pertama kalinya gue gagal setelah berusaha (terlalu) keras. Not trying to brag, but, I'm the type of person who succeed if I put my mind 100% on it. Gua selalu menerapkan metode seperti ini dan hasilnya pun sangat memuaskan. Begitu juga pas kelas 12. In my head: as long as i'm aligned with my goals, i'd always achieve whatever i want. But that's not the case with this one, SBMPTN.

You can't really predict the outcome (the scoring result). No matter how hard I worked, my score is always stuck on that range.

Saat ngebuka pengumuman SBMPTN 2020, gua bener-bener speechless. Kehabisan kata-kata. Is this where my effort goes to?

I was down for like, 2 months. Agustus - September 2020. I couldn't do anything. My head was filled with thoughts, I thought it gonna explode but it didn't. Instead i got sadder lol. 

Di pertengahan Juli 2020, gue udah mulai kelabakan cari-cari info Ujian Mandiri dan ptn mana yang bakal nerima gue dengan skor segitu. It was fkin tragic.

Walaupun gue gak lolos, at least gue udah bener-bener perjuangin sampe titik 0.


Amsal 18:1 Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.

Gue udah ngorbanin banyak hal untuk ini. If something goes wrong in one of those aspects, let's say, aspek percintaan, it'll only ruin my plan. Oleh karena itu, biar fokus dengan tujuan, I detached myself from everything. Bener-bener gue gak peduli sama aspek lain dalam hidup selain belajar untuk keterima perguruan tinggi negeri. "My future is on stake why bother having fun and spending time on something else?" That's just a waste of time. I thought.

Di penghujung tahun 2019, gue mulai insentif belajar SBMPTN untuk yang kedua kalinya. Tepat terhitung sejak November 2019 sampe bulan Juli 2020, gue belajar nonstop tanpa hari libur. Gue belajar sbm sambil kuliah, tentu mikir banyak banget waktu yang "kesita" Oleh karena itu pas dosen lagi ngobrol-ngobrol sama mahasiswa di kelas, gue nyempetin diri buat ngebaca rangkuman sbm gue, ataupun baca buku kumpulan soal. Pas istirahat di kantin dan pulang kuliah juga begitu. Gue dengerin materi pake earphone. Di grab car, gue otw pulang ke rumah sambil baca buku atau e-book dari Quipper.

Gue bener-bener gak peduli dengan kesehatan gue selama persiapan SBMPTN. Setiap harinya gue bisa belajar sampe 8 jam (maksimal 10 jam), dan bahkan gue belajar sampe subuh. Pernah, gue gak tidur sama sekali karena banyak pikiran, akhirnya gue ngebut belajar materi sampe pagi. Setiap kecapean, gua sesek nafas banget, ulu hati gua nyeri. Mau gerak aja gabisa. Pokonya udah kaya orang serangan jantung wakaka.

Gue juga uninstall semua game di hp, termasuk PUBG. Padahal gua demen main itu walaupun cupu juga, haha. Gua ada perjanjian gini sama diri sendiri: kalo gue main pubg, gue ga bakalan lolos. 

Yeah, it's a stupid curse. Menjelang SIMAK UI, gua lagi sedih-sedihnya akibat ke-trigger sama suatu hal, and then, boom! I forgot my promise was. "Ah udahlah itu mah bloon, like why would u percaya those supersititon lol" dan akhirnya gue main PUBG lagi. The sadness was gone for a while and I uninstalled the game again. (Sebenernya gue main dari pertengahan Juli sih. Setelah selesai sbm. atau juni gitu, lupa.)

Ada beberapa benefit yang gue rasain setelah belajar sbmptn ini:

1. Pengetahuan gue bertambah

Banyak bab pelajaran yang gak diajarin pas SMA and I'm lucky to learn about that. Ini membantu banget, apa lagi pas presentasi kuliah. Karena jurusan gue sefrekuensi sama materi ekonomi, gue jadi tinggal cas cis cus aja pas ngejelasin ke temen-temen. Selain itu, pas ngejawab UTS juga gue jadi punya banyak perspektif untuk diulas wkwk. (I even got an A!)


2. Gue jadi tau apa yang gua mau. (re: cita-cita)

Tbh abis lulus dari jurusan ini gue gatau mau kerja apaan. Sebenernya gue milih manajemen supaya biar bisa punya basic buat ngediriin usaha sendiri. Paling nanti kerja ga jauh-jauh dari marketing. Heu. Still, i get to know my self and my needs more. 


3. I get better at math. 

Belajar materi sbm ngebikin gue sadar kalo skill itung-itungan gue ga lebih baik daripada anak kelas 7. I literally belajar mtk dari nol demi TPS Kuantitatif. Keuntungannya? banyak sih. Gue jadi merasa jauh lebih legaa dan gak bego2 amat soal mtk. In fact, gue jadi lebih demen ngitung daripada hafalan or disuru ngebaca (alias pusing banget liat bacaan panjang"!) 

Shoutout untuk temen-temen gue yang mau ngajarin mtk di kala gue kesusahan, bahkan di jam 12 malam pun mereka masih mau ngeladenin pertanyaan gue. HAHA. Terima kasi. Temanmu ini sudah tidak bloon lagi sekarang.

Update April 4th: 2021.
INTINYA gua ga lolos karena gua terlalu pengecut dan ga berani ngadepin kenyataan nilai tryout yg turun, akhirnya ga begitu peduli ikutan tryout lagi. kek gambling bgt anj gada usaha ikut begituan WKWKWKWKW.

No comments:

Post a Comment

Door.

Hai! untuk kalian para pejuang ptn, atau siapa pun yang gak sengaja nemuin postingan ini, selamat datang! Sekedar info, draft asli postinga...